Ketika Manusia dan Kelelawar Berpaut di Wakatobi


Gambar: IG @wakatobimasakini
Menelusuri bakau. Kira-kira begitulah padanan klausa tracking mangrove. Berada di Desa Waitii, Pulau Tomia, Wakatobi.

Juga terdapat dermaga penyeberangan ke Pulau Tolandono, Desa Lamanggau. Desa yang dihuni etnis Bajo (suku laut).

Wisatawan mancanegara menggunakan dermaga itu untuk menyeberang ke Wakatobi Dive Resort (WDR) yang tersohor itu.

Aksesnya sangat mudah. Ketika menuju dermaga maka pasti melintasi hutan bakau yang rindang.

Gambar: koleksi istimewa.
Rugi besar sekira hanya melintas. Singgahlah sekadar menghela nafas. Atau membincang suatu perkara yang pelik. Lalu tengok. Di ranting-ranting bakau itu berjejer rapi "si raja malam". Kelelawar. Ada ribuan.

Sesekali mereka saling membisik. Pun mereka tidak risih dengan anak-anak remaja yang sedang bertengkar asmara itu. Juga tidak iri dengan si pria mungil yang wajahnya dipenuhi bulir-bulir keringat gejolak asmara. Tengah bersiap mengungkap perasaan pada pujaan hatinya.

Yah, begitu lah hewan yang habitatnya lestari. Barangkali jika tidak ada demikian, mereka sudah pergi jauh. Tentu sesekali datang buang hajat di pakaian-pakaian yang kemalaman diangkat dari jemuran.

Gambar: ilustrasi
Entah sejak kapan mereka ada di sana. Masyarakat setempat sudah terbiasa dengan keberadaan mereka. Begitupun sebaliknya. Tak ada masalah berbagi alam ciptaan Tuhan ini.

Syafi'i Ma'arif pernah mengingatkan "inilah bumi tempat kita bermukim sementara, untuk kita pelihara bersama, bukan untuk ditaklukkan".

Berkenaan dengan hal itu dibangun wahana telusur bakau oleh Pemerintah Desa. Kesan menyatu dengan alam sangat terasa. Ranting-ranting yang menjulur dibiarkan begitu saja. Tak ada warna-warni.

Semata-mata menjaga kelestarian dan harmoni alam. Impak ekowisata mulai tumbuh seiring dengan pengelolaan yang baik oleh pihak berwenang.

Salam lestari!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelintas Batas Maritim: Pencuri atau Pencari?

Figur dan Kegenitan Citra

Iran yang 'Malang'