Figur dan Kegenitan Citra

Ilustrasi

Media sosial (medsos) pada masa pandemi covid-19 menjadi ruang yang lebih ramai dari biasanya. Tiap kali membuka beranda sederet informasi menghampiri. Informasi mutu maupun tak mutu tersaji rapi berdasar platform medsos.

Mudah dijumpai beragam gambar citra diri, baik itu autentik, gurau, atau sekadar kamuflase. Salah satu jenis gambar yang paling mudah ditemukan adalah gambar seseorang atau bersama orang lain dalam aktivitas tertentu. Tak jarang kita mengenal orang tersebut, misalnya figur publik. Dalam kacamata awam kerap dianggap tidak wajar. Peristiwa tersebut dapat ditelaah menurut sudut pandang ilmu bahasa (linguistik).

Sintagmatik. Yah, itu bukan semacam anti virus. Sintagmatik adalah konsep yang diajukan oleh Ferdinand de Saussure. Seorang ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Moderen. Dalam konsep tersebut dijelaskan bahwa sebuah kata berelasi dengan kata lain disekitarnya secara berurutan. Makna sebuah kata dipengaruhi oleh kata-kata yang ada disekitarnya.

Konsep sintagmatik tersebut dapat pula ditemukan dalam berbagai kehidupan lain. Beberapa nasehat misalnya "untuk mengenal seseorang maka kenalilah teman-temannya", ada juga dalam sebuah riwayat "barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari kaum itu", atau yang paling sederhana "bergaul dengan penjual parfum, maka ia pun akan ikutan wangi".

Beragam contoh diatas dipahami bahwa relasi sekitar bisa ikut memengaruhi keadaan atau orang tertentu. Selain itu bisa juga memengaruhi penilaian orang lain terhadap orang tertentu berdasarkan kondisi yang melingkupinya.

Bagaimana dengan gambar-gambar figur publik yang bertebaran di medsos?

Mengacu pada uraian di atas maka gambar-gambar figur publik  bisa dikategorikan sedang mempraktekkan konsep sintagmatik. Figur publik berfoto dengan penjual ikan, bantu sapu jalanan, ikut membantu petani di kebun, atau memancing bersama nelayan. Beragam kondisi demikian merupakan "makna" yang dapat memengaruhi figur publik. Artinya kondisi yang melingkupinya akan memicu citra diri sebagai bagian dari masyarakat tertentu.

Pemicu citra diri tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Manusia selalu menilai objek tidak hanya berdasarkan sifat objek tersebut, namun juga berdasarkan objek lain yang ada di sekitarnya. Suatu hari saya ditanya mahasiswa "bapak ngajar di prodi apa?", "Ngajar di Prodi Pendidikan Agama Islam", "berarti ustadz dosenku dong". Seketika saya jadi ustadz. Dalam pandangan awam, ustadz adalah guru agama. Nah saya? Refleks kujawab "iya dong". Ia pun tersipu malu. Seorang akhwat yang cocok buat kaum jomblo beriman. Hehe.

Nah bagaimana kamu yang kepergok selalu sendirian? Ah sudahlah. Citra diri terpampang nyata. Sssst.

Jadi, figur publik sebenarnya sedang memanfaatkan kecenderungan itu. Hubungan secara sintagmatik akan memicu citra diri. Ia berusaha mengajak warganet mempersepsikan dirinya sebagaimana kondisi yang melingkupinya.

Tunggu dulu! Ada syaratnya. Jika tidak terpenuhi maka upaya bisa sia-sia. Persepsi bisa tertukar atau menghasilkan kesan yang bertentangan. Cilaka.

Adapun syarat tersebut adalah kewajaran. Ia mesti tampak wajar melakukan adegan-adegan itu. Wajar dalam arti berelasi secara sejajar. Alami. Tampak tidak kaku misalnya saat memegang cangkul, mengayuh dayung, atau sekurang-kurangnya tidak berwajah kinclong. Hehe. Repot jadinya.

Jika syarat itu sudah terpenuhi, maka sampailah pada syarat terakhir yaitu ikhlas. Syarat terakhir ini, rakyat jelata bisa mengukur dari amanah tidaknya ia menjadi wakil atau pemimpin rakyat.

Selamat belajar menjadi Rakyat Jelata. Sedangkan rakyat jelata mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menjadi rakyak jelata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelintas Batas Maritim: Pencuri atau Pencari?

Ketika Manusia dan Kelelawar Berpaut di Wakatobi