Pelintas Batas Maritim: Pencuri atau Pencari?
![]() |
| Gambar: CNN Indonesia |
Di rumah ada anak istri menunggu bapak pulang bawa hasil. Buat seragam sekolah dan uang jajan. Jika ada lebihnya, barulah ibu belanja satu dua helai pakaian untuk sekadar merias diri.
Bapak tidak kunjung pulang seperti sedia kala. Anak bungsu yang sedari tadi nonton TV tiba2 ia kegirangan melihat bapak. Ibu yang masih belepotan di dapur terkaget-kaget teriakan si bungsu. "Bapak di TV Bu"
Yah, bapak di TV. Sedang diciduk aparat negri tetangga. Berjejer di belakangnya aparat yang menenteng AK 47 atau mungkin SS1 buatan Pindad.
Sementara di sini. Di Indonesia. Negeri kita. Tidak sedikit menyumpah-serapah para "pencuri" ikan itu. Bila perlu tembaki saja kapal-kapalnya. Dst.
Saya teringat dengan nelayan dari Desa tetangga di kampung. Dahulu mereka kerap melaut hingga ke laut Aru atau Arafura. Tempat pertempuran Yos Sudarso melawan Belanda.
Di sana ladangnya ikan. Saat keasyikan menangkap ikan, tadak sadar sudah lintas batas. Hanyut. Masuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) Australia.
Lalu ditangkap. Dibakar kapalnya. Mereka dideportasi. Dipulangkan. Tentu saja setelah menjalani hukuman sesuai hukum di negeri kanguru itu.
Ditulis: 07/01/2020

Komentar
Posting Komentar