Covid-19, Bayi Ngelantur, dan Harapan Baru
![]() |
| Ilustrasi. Ig @pderr |
Sedikitnya ada dua pilihan yang telah diterapkan berbagai negara. Pertama, social distancing 'pembatasan sosial'. Frasa social distancing tampaknya sering disalahpahami masyarakat, sehingga organisasi kesehatan dunia (WHO) mendorong penggunaan frasa physical distancing 'pembatasan jarak'. Kedua, lockdown 'karantina wilayah'.
Kebijakan Karantina Wilayah diberlakukan sebagai solusi ekstrim manakala penularan tak terkendali. Sebut saja seperti Wuhan, Tiongkok. Pemerintahnya mengucurkan dana sebesar Rp. 20.000 triliun. Uang semua itu gaes. Alhasil perlahan mulai membaik, bahkan kini 0 (nol) kasus untuk penularan lokal. Langkah ini diikuti oleh Italia sebagai negara yang terdampak parah. Italia mengarantina 25% wilayah negaranya namun hal itu belum cukup untuk menekan penularan wabah. Kabarnya kini Italia mengarantina total negaranya. Semoga berhasil.
Kebijakan Karantina Wilayah diikuti oleh Malaysia dan Singapura. Hal ini pun menuai polemik antara kedua Jiran itu. Bagaimana tidak, sekira 20% tenaga kerja Singapura disuplai oleh negara Malaysia. Selain itu banyak pula kebutuhan pangan negara Singapura disuplai oleh Malaysia. Tentu ini kabar tak sedap bagi Singapura.
Lain hal dengan Korea Selatan. Negeri ginseng itu menerapkan kebijakan Pembatasan Jarak. Kemudian disusul dengan pemeriksaan massal untuk menjaring penyebaran virus korona. Kini mereka mulai menekan jumlah penularan lokal.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sejak dikonfirmasi kasus pertama positif korona pada 2/3/2020. Pemerintah pun melakukan penelusuran jejak kontak fisik pasien. Kemudian disusul kebijakan menerapkan Pembatasan Jarak. Barangkali miriplah dengan langkah yang diterapkan Korea Selatan.
Kebijakan tersebut disertai dengan langkah-langkah cepat. Bermunculanlah istilah-istilah baru seperti: pasien positif korona, pasien dalam pemantauan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), alat pelindung diri (APD), dll..
Langkah-langkah baik ini tentu tidak akan berjalan dengan mudah tanpa kerjasama dari masyarakat. Pemerintah pun melakukan kampanye besar-besaran dalam rangka meminta kepada warga negara untuk disiplin. Disiplin jaga jarak, di rumah saja, kerja dari rumah. Itulah sekelumit tagar (#) yang berseliweran di media daring.
Langkah tersebut mendapat sambutan baik dari kalangan tokoh publik. Mulai dari tokoh politik, influencer, hingga kalangan akademisi. Mereka ramai-ramai mengkampanyekan anjuran pemerintah.
Dalam prakteknya, masyarakat tidak serta mereka menerapkan Pembatasan Jarak. Aktivitas sosial seperti pasar, pelabuhan, dan bandara masih ditemukan kerumunan orang yang tidak disiplin. Alih-alih melarang keluyuran, menjaga jarak saja susah minta ampun. Inilah wajah bangsaku berikut sekelumit watak manusianya.
Hingga tiba pada suatu malam. Saya terbangun oleh bunyi telepon. "Bapak nelpon. Ada apa gerangan?" Kumembatin. "Nak! Benarkah ini orang-orang bilang rebus telur lalu makan sebelum jam 12 malam? Katanya ada bayi ajaib baru lahir sampaikan pesan itu." Ujar si Bapak dengan nada menggebu-gebu. Sepertinya ia masih terjaga. "Rebus saja pa! Telur rebus baik untuk kesehatan. Tapi kalau si bayinya suruh masyarakat kumpul-kumpul atau minta donasi untuk popoknya, jangan mau!" Jawabku berceloteh setengah kantuk. Teleponan pun berakhir.
Lalu saya bangkit dari tidur, cuci tangan, cuci muka. Kuraih kembali hape. Muhamma! Beranda medsos sedang ramainya membincangkan telur rebus. Tak sedikit pengguna medsos dapat telepon serupa dengan saya. Ada yang bertanya, ada yang menyuruh, ada juga menawarkan telur ayam pesan_antar. Konon makan telur rebus mampu menangkal korona.
Alhamdulillah! Ini pertanda baik. Kesadaran masyarakat perihal bahaya korona mulai bangkit. Ekspresinya pun beragam. Bergantung pada paham yang dianut. Ilmuan sosial Kuntowijoyo mengajukan sedikitnya 3 (tiga) fase kesadaran masyarakat: mistik, ideologi, dan ilmu.
Kesadaran mistik dibangun atas dasar kepasrahan percaya terhadap hal-hal yang yang ajaib. Sedang kesadaran ideologi dibangun atas dasar kebenaran yang diajukan dari konsep tertentu yang dianut oleh kelompok tertentu. Adapun ilmu adalah kesadaran yang dibangun berangkat dari sikap skeptis, menelusuri, mengumpulkan, laku membuktikan kebenaran tentu dengan prinsip-prinsip ilmiah.
Kesadaran mistik dewasa ini tidak begitu populer lagi iya telah digeser oleh kemajuan beragam teknologi. Tokoh-tokohnya banyak yang gulung tikar. Ada juga yang tetap bertahan dengan menggunakan teknologi sebagai media menyebarkan kesadaran mistis. Adapun oknum yang menyebarkan berita bayi "ajaib" akhir-akhir ini, barangkali ia sedang melakukan "prank massal gaes".
Kesadaran kelompok yang kukuh dan kekeh dengan pendapatnya bisa kita menengok peristiwa di Korea Selatan. Pada awal virus korona masuk, ada sekte yang tetap melaksanakan ritual keagamaan berjamaah. Satu jemaatnya pernah memeriksakan diri di RS dengan keluahan demam dan batuk-batuk. Pihak RS menganjurkan agar ia isolasi mandiri sementara waktu. Ia menolak. Ia merasa baik-baik saja dan lebih percaya bahwa ia akan menjadi lebih baik apabila tetap mengikuti ritual keagamaan itu.
Alhasil pada 2/3/2020 Korea Selatan melaporkan 3.730 kasus dan 21 kematian. Lebih dari setengah dari semua yang terinfeksi melibatkan anggota Gereja Shincheonji Yesus, sebuah kelompok Kristen pinggiran.
Pada akhirnya semua berpulang kepada kita. Semoga kemajuan ilmu pengetahuan yang dilandasi iman dapat segera meredakan mewabahnya virus korona. Kita yang belum memiliki cukup ilmu pengetahuan tentang wabah ini, marilah kita mengikuti anjuran otoritas terkait yang memiliki fasilitas dan sumber daya manusia yang berilmu dalam rangka meneliti, mengkaji, lalu mengambil sebuah kebijakan yang tepat sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an.
Semoga wabah segera berlalu. Amin. 🙏
#PembatasanJarak #DiRumahAja #KerjaDariRumah

Mantap kanda
BalasHapusSiap tum
Hapus